Senin, 28 Oktober 2013
22.04
|
Laporan Pendahuluan
ASKEP TEORI
Definisi Tuberkulosis (TBC)
v Tuberkulosis
(TBC) adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis.
Kuman batang aerobik dan tahan asam ini, dapat merupakan organisme pathogen
maupun saprofit.
v Tuberkulosis
(TBC) adalah infeksi jaringan paru-paru
oleh bakteri mycobacterium tuberculosa. Bakteri ini ditularkan bersama udara
inspirasi, kemudian merusak jaringan paru-paru sehingga paru-paru menjadi
berongga dan terbentuk jaringan ikat di paru-paru.
v Tuberkulosis
(TBC) pulmonal
Tuberkulosis pulmonar disebabkan oleh Mycobacterium
tuberculosis dan ditandai oleh adanya sumber radang granulomatosa. Terbagi 2 ;
1.
Tuberkulosis primer terjadi pada individu yang tidak
diimunisasi biasanya pada bagian bawah lobus atas atau bagian atas lobus bawah
terlihat pula dengan jelas terlibatnya nodus limfa regional (Trakeo-bronkial),
kombinasi ini adalah merupakan kompleks primer.
2.
Tuberkulosis postprimer (Sekunder) dihasilkan dari
pengaktifan kembali lesi primer atau infeksi kembali setelah beberapa tahun
penyakit primer, dan biasanya mulai pada bagian posterior atau apeks dari lobus
atas.
Etiologi
Tuberkulosis (TBC)
v
Penyebab utama penyakit TB adalah kuman mikroorganisme
yaitu Mycrobacterium tuberculosis sejenis basil aerobik kecil yang no-motil, dengan
ukuran panjang 1-4 um dan tebal 0,3-0,6 um. Bakteri ini berbentuk batang
dan bersifat tahan asam, sehingga di kenal juga sebagai Batang Tahan Asam
(BTA). Berbagai karakter klinis unik pathogen ini disebabkan oleh tingginya kandungan
lemak/lipid yang dimilikinya.
Sel-selnya membelah setiap 16-20 jam. Kecepatan pembelahan
ini termasuk lambat bila di bandingkan dengan jenis bakteri lain yang umumnya
membelah setiap kurang dari satu jam. Bakteri ini pertama kali ditemukan oleh Robert
Koch pada tanggal 24 maret 1882.
v
Kompleks M.tuberculosis (KMTB) juga termasuk
mikrobakterium lain yang juga menjadi penyebab TB. Kompleks M.tuberculosis
terdiri dari M.bovis,
M.africanum, M.canetti, dan M.microti.
-
M.africanum tidak menyebar luas, namun merupakan
penyebab penting tuberculosis disebagian wilayah Afrika.
-
M.bovis merupakan penyebab susu pasteurisasi telah
memusnahkan jenis mikobakterium yang selama ini menjadi masalah kesehatan
masyarakat dinegara-negara berkembang ini.
-
M.canetti merupakan jenis langkah dan hanya ada
dikawasan tanduk afrika.
-
M.Microti ditemukan pada penderita yang mengalami
imunodefisiensi, meski demikian pathogen ini kemungkinan bisa bersifat lebih
umum dari yang kita bayangkan.
Anatomi
Sistem Pernapasan
v
Hidung
Hidung atau naso atau nasal merupakan saluran udara
yang pertama, mempunyai dua lubang (kavum nasi), dipisahkan oleh sekat hidung
(septum nasi).
Didalamnya terdapat bulu-bulu yang berguna menyaring udara, debu, dan
kotoran yang masuk ke dalam lubang hidung.
1. Bagian
luar dinding terdiri dari kulit
2. Lapisan
tengah terdiri dari otot-otot dan tulang rawan
3. Lapisan
dalam terdiri dari selaput lendir yang berlipa-lipat yang dinamakan karang
hidung (konka nasalis) yang berjumlah tiga buah :
a. Inferior
(atau karang hidung bagian bawah)
b. Media
(karang hidung
bagian tengah)
c. Superior
(karang hidung bagian atas)
Diantara
konka ini terdapat tiga buah lekukan meatus yaitu :
a. Meatus
superior (lekukan bagian atas)
b. Meatus
medialis (lekukan bagian tengah)
c. Meatus
inferior (lekukan bagian bawah )
Meatus-meatus
inilah yang dilewati oleh udara pernapasan, sebelah dalam terdapat lubang yang
berhubungan dengan tekak, lubang ini disebut koana. Dasar dari rongga hidung
dibentuk oleh tulang rahang atas, ke atas rongga hidung berhubungan dengan
beberapa rongga yang disebut sinus paranasalis, yaitu sinus maksilaris pada
rongga rahang atas, sinus frontalis pada rongga tulang dahi, sinus sfenoidalis
pada rongga tulang baji dan sinus etmoidalis pada rongga tulang tapis.
Pada
sinus etmoidalis, keluar ujung-ujung saraf penciuman yang menuju ke konka
nasalis. pada konka nasalis terdapat sel-sel penciuman, sel tersebut terutama
terdapat dibagian atas. Pada hidung dibagian mukosa terdapat serabut saraf atau
reseptor dari saraf penciuman (nervus olfaktorius).
Disebelah
belakang konka bagian kiri kanan dan sebelah atas langit-langit terdapat satu
lubang pembuluh yang menghubungkan rongga tekak dengan rongga pendengaran
tengah. Saluran ini disebut tuba auditiva eustaki yang menghungungkan telinga
tengah dengan faring dan laring. Hidung juga berhubungan dengan saluran air
mata disebut tuba lakrimalis.
v
Faring
Tekak
atau faring merupakan tempat persimpangan antara jalan pernapasan dan
jalan makanan, terdapat dibawah dasar tengkorak, dibelakang rongga hidung dan
mulut sebelah depan ruas tulang leher. Hubungan faring dengan organ-organ lain:
ke atas berhubungan dengan rongga hidung, dengan perantaraan lubang yang
bernama koana; ke depan berhubungan dengan rongga mulut, tempat hubungan ini
bernama istmus fausium; ke bawah terdapat dua lubang ; ke depan lubang laring ;
ke belakang lubang esophagus.
Rongga
tekak dibagi atas tiga bagian :
1. Bagian
sebelah atas yang sama tingginya dengan koana disebut nasofaring.
2. Bagian
tengah yang sama tingginya dengan istmus fausium disebut orofaring.
3. Bagian
bawah sekali dinamakan laringofaring.
v
Laring
Laring
atau pangkal tengkorak merupakan saluran udara dan bertindak sebagai
pembentukan suara, terletak didepan bagian faring sampai ketinggian vertebra
servikalis dan masuk ke dalam trakea dibawahnya.
Laring
terdiri dari 5 tulang rawan antara lain :
1. Kartilago
tioid (1 buah ) depan jakun, sangat jelas terlihat pada pria.
2. Kartilago
ariteanoid (2 buah ) yang berbentuk beker.
3. Kartilago
krikoid (1 buah ) yang berbentuk cincin.
4. Kartilago
epiglottis (1 buah).
v
Trakea
Trakea
atau batang tenggorok merupakan lanjutan
dari laring yang dibentuk oleh 16 – 20 cincin yang terdiri dari tulang-tulang
rawan yang berbentuk seperti kuku kuda (C). sebelah dalam diliputi oleh selaput
lendir yang berbulu getar yang disebut sel bersilia, hanya bergerak ke arah
luar. Panjang trakea 9 – 11 cm dan dibelakang terdiri dari jaringan ikat yang
dilapisi oleh otot polos.
Sel-sel
bersilia gunanya untuk mengeluarkan benda-benda asing yang masuk bersama-sama
dengan udara pernapasan. Yang memisahkan trakea, menjadi bronkus kiri dan
kanan disebut karina.
v
Bronkus
Bronkus
atau cabang tenggorok merupakan lanjutan dari trakea, ada dua buah yang
terdapat pada ketinggian vertebra torakalis IV dan V , mempunyai struktur
serupa dengan trakea dan dilapisi oleh jenis set yang sama. Bronkus
ituberjalaln ke bawah dan ke samping kearah tampuk paru-paru. Bronkus kanan
lebih pendek dan lebih besar dari pada bronkus kiri, terdiri dari 6 – 8 cincin,
mempunyai 3 cabang. Bronkus kiri lebih panjang dan lebih ramping dari yang
kanan terdir dari 9 – 12 cincin mempunyai 2 cabang. Bronkus bercabang-cabang,
cabang yang lebih kecil disebut bronkiolus (bronkioli). Pada bronkioli tak
terdapa cincin lagi, dan pada ujung bronkioli terdapat gelembung paru/gelembung
hawa atau alveoli.
v
Paru-paru
Paru-paru
ada dua, merupakan alat pernapasan pertama. Paru-paru mengisi rongga dada
terletak disebelah kanan dan kiri dan ditenga dipisahkan oleh jantung beserta
pembuluh darah besarnya dan struktur lainnya yang terletak didalam mediastinum.
Paru-paru adalah organ yang berbentuk kerucut dengan apeks (puncak) diatas dan
muncul sedikit lebih tinggi. Dari pada clavicula didalam dasar leher. Pangkal
paru-paaru duduk diatas landai rongga toraks, diatas diafragama. Paru-paru
mempunyai permukaan luar yang menyentuh iga-iga, permukaan dalam yang memuat
tampuk paru-paru, sisi belakang yang menyentuh tulang belakang, dan sisi depan
yang menutupi sebagian sisi depan jantung.
v
Lobus paru-paru (belahan paru-paru), paru-paru dibagi
menjadi beberapa belahan atau lobus oleh fisura. Paru-paru kanan mempunyai 3
lobus dan paru-paru kiri 2 lobus. Setiap lobus tersusun atas lobula. Sebuah
pipa bronkial kecil masuk kedalam setiap lobula dan semakain bercabang, semakin
menjadi tipis dan akhirnya berakhir mrnjadi kantong kecil-kecil, elastic,
berpori, dan seperti spon. Di dalam air paru-paru mengapung karena udara yang
ada didalamnya.
v
Bronkus pulmonalis, trakea terbelah menjadi 2 bronkus utama :
bercabang lagi sebelum masuk paru-paru. Dalam perjalanan menjelajahi paru-paru,
bronkus-bronkus pulmonaris bercabang dan beranting lagi banyak sekali. Saluran
besar yang mempertahankan struktur serupa dengan yang dari trakea mempunyai
dinding fibrusa berotot yang mengandung bahan rawan dan dilapisi eptelium bersilia,.
Makin kcil salurannya, makin berkurang tulang rawannya dan akhirnya tinggal
dinding fibrusa berotot dan dinding silia. Bronkus
terminalis masuk kedalam bagian yang agak lain yang disebut vestibula, dan
disini membran pelapisnya mulai berubah sifatnya; lapisian epithelium yang
bersilia diganti dengan sel epithelium yang pipih. Dari vestibula berjalan
beberapa infundibula dan didalam
dindingnya dijumpai kantong-kantong udara itu kantong udara atau alveoli itu terdiri atas satu lapis
tunggal sel epithelium pipih, dan disinilah darah hamper langsung bersentuhan
dengan udara—suatu jaringan pembuluh darah kapiler mengitari alveoli dan
pertukaran gas pun terjadi.
v
Pembuluh darah dalam paru, arteri pulmonalis membawa
darah yang sudah tidak mengandung oksigen dari ventrikel kanan jantung ke
paru-paru; cabang-cabangnya menyentuh saluran-saluran bronchial, bercabang dan
bercabang lagi sampai menjadi arteriol halus; arteriol itu membelah-belah dan
membentuk jaringan kapiler dan kapiler itu menyentuh dinding alveoli atau
gelembung udara.
v
Hilus (tampuk) paru-paru dibentuk oleh struktur
berikut :
·
Arteri pulmonalis, yang mengembalikan darah tanpa
oksigen ke dalam paru-paru untuk diisi oksigen.
·
Vena pulmonalis, yang mengebalikan darah yang berisi
oksigen dari paru-paru ke jantung.
·
Bronkus, yang bercabang dan beranting membentuk pohon
brnkial, erupakan jalan udara utama.
·
Arteri bronkialis, keluar dari aorta dan menghantar
darah arteri ke jaringan paru-paru.
·
Vena bronkialis, mengembalikan sebagian darah dari
paru-paru ke vena kava superior.
·
Pembuluh limfe, yang masuk-keluar paru-paru, dangat
banyak.
·
Persarafan, paru-paru mendapat elayanan dari saraf
vagus dan saraf simpati.
·
Kelenjar limfe, semua pembuluh limfe yang menjelajahi
seluruh paru-paru dapat menyalurkn ke dalam kelenjar yang ada di tampuk
paru-paru.
v Pleura.
Setiap paru-paru dilapisi membrane selosa rangkap dua, yaitu pleura. Pleura viselaris erat melapisi
paru-paru, masuk kedalam fisura, dan dengan demikian memisahkan lobus satu dari
yang lain. Membran ini kemudian dilipat kembali di sebelah tampuk paru-paru dan
membentuk pleura parietalis, dan
melapisi bagian dalam dinding dada. Pleura yag melapisi iga-iga adalah plura kostalis, bagian yang menutupi
diafraga ialah pleura diafragmatika,
dan bagian yang terletak di leher ialah pleura
servikalis. Pleura ini diperkuat dengan membrane yang kuat bernama membran suprapleuralis (fasia Sibson)
dan di atas membran ii terletak arteri subklavia.
Fisiologi Sistem Pernapasan
Pada pernafasan melalui paru-paru atau pernafasan eksterna,
oksigen dipungut melalui hidung dan mulut pada waktu bernafas; oksigen masuk
melalui trakea dan pipa bronchial ke alveoli, dan dapat berhubungan erat dengan
darah di dalam kapiler pulmonalis.
Hanya
satu lapisan membran alveoli-kapiler, yang memisahkan oksigen dari darah.
Oksigen menembus membran ini dan dipungut oleh hemoglobin sel darah merah dan
dibawah ke
jantung. Dari sini dipompa ke seluruh bagian tubuh. Darah meninggalkan
paru-paru pada tekanan oksigen 100 mm Hg dan pada tingkat ini hemoglobinnya 95%
jenuh oksigen. Di dalam paru-paru karbondioksida, salah satu hasil buangan metabolism,
menembus membran alvoler-kapiler dari kapiler darah ke alveoli, dan setelah
mealui pipa bronkial dan trakea, dinapaskan keluar melalui mulut dan
hidung.
Empat
proses yang berhubungan dengan pernapasan
pulmoner atau pernapasan eksterna :
1. Ventilasi
pulmoner,
atau gerak pernapasan yang menukar udara dalam alveoli dengan udara luar.
2. Arus
darah melalui paru-paru.
3. Distribusi
arus udara dan arus darah sedemikian sehingga dalam jumlah tepat dapat mencapai
semua bagian tubuh.
4. Difusi
gas yang membuat membran pemisah alveoli dan kapiler. CO2 lebih
mudah berdifusi dari pada oksigen.
Semua proses ini diatur sedemikian sehingga darah yang
meninggalkan paru-paru menerima jumlah tepat CO2 dan O2.
Pada waktu gerak badan, lebih banyak darah datang di paru-paru membawa terlalu
banyak CO2 dan terlampau sedikit O2; jumlah CO2 itu
tidak dapat dikeluarkan, maka konsentrasinya dalam darah arteri bertambah. Hal
ini merangsang pusat pernapasan dalam otak untuk memperbesar kecepatan dan
dalamnya pernpasan. Pernapasan
ventilasi ini mengeluarkan CO2 dan memungut leih banyak O2.
Pernapasan
jaringan atau pernapasan interna. Darah yang telah menjenuhkan hemoglobinnya dengan
oksigen (oksihemoglobin) mengitari seluruh tubuh dan akhirnya mencapai kapiler,
dimana daerah bergerak sangat lambat. Sel jaringan memungut oksigen dari
hemoglobin untuk memungkinkan oksigen berlangsung, dan darah menerima, sebagai
gantinya, hasil buangan oksidasi yaitu karbon dioksida.
Perubahan-perubahan
berikut terjadi pada komposisi udara dalam alveoli, yang disebabkan pernapasan
eksterna dan pernapasa interna.
·
Udara (atmosfer) yang dihirup :
1.
Nitrogen : 79%
2.
Oksigen :
20%
3.
Karbon dioksida :0-0,04%
·
Udara yang masuk alveoli mempunyai suhu dan kelembapan
atmosfer/udara yang dihembuskan :
1. Nitrogen : 79%
2. Oksigen : 16%
3. Karbon
ioksida : 4-0,4%
Udara
yang dihembuskan jebuh dengn uap air dan mempunyai suhu yang sama dengan badan
(20% panas badan hilang utuk pernapasan udara yang dikeluarkan).
Patofisiologi
Penularan tuberculosis paru terjadi karena kuman
dibersinkan atau dibatukkan keluar menjadi droplet nuklei ke udara. Partikel infeksi ini dapat
menetap dalam udara bebas selama 1-2 jam, tergantung pada ada tidaknya sinar ultraviolet,
ventilasi yang buruk dan kelembaban. Dalam suasana lembab dan gelap kuman dapat
tahan selama berhari-hari sampai berbulan-bulan. Bila partikel infeksi ini
terhirup
oleh orang sehat akan menempel pada jalan nafas atau paru-paru. Partikel dapat
masuk ke alveolus bila ukurannya kurang dari 5 mikromilimeter.
Tuberculosis
adalah penyakit yang dikendalikan oleh respon imunitas perantara sel. Sel
efektornya adalah makrofag sedangkan limfosit (biasanya sel T) adalah imunoresponsifnya.
Tipe imunitas seperti ini biasanya lokal, melibatkan makrofag yang diaktifkan
ditempat infeksi oleh limfosit dan limfokinnya. Respon ini disebut sebagai reaksi
hipersensitifitas (lambat). Hal ini akan menyebabkan infeksi paru primer.
Basil
tuberkel yang mencapai permukaan alveolus biasanya diinhalasi sebagai unit yang
terdiri dari 1-3 basil. Gumpalan basil yang besar cendrung tertahan dihidung
dan cabang bronkus dan tidak menyebabkan penyakit (Dannenberg 1981). Setelah
berada diruang alveolus biasanya dibagian bawah lobus atas paru-paru atau
dibagian atas lobus bawah, basil tuberkel ini membangkitkan reaksi peradangan.
Akibatnya, sebagai respon terhadap reaksi peradangan, tubuh akan kelebihan
panas (hipertermi). Leukosit polimorfonuklear tampak didaerah tersebut
dan memfagosit bakteria namun tidak membunuh organisme ini. Sesudah hari-hari
pertama leukosit akan digantikan oleh makrofag . Alveoli yang terserang akan
mengalami konsolidasi dan timbul gejala pneumonia akut.
Pneumonia seluler akan sembuh dengan sendirinya, sehingga tidak ada sisa atau
proses akan berjalan terus dan bakteri akan terus difagosit atau berkembang
biak didalam sel. Basil juga menyebar melalui getah bening menuju kelenjar
getah bening regional. Makrofag yang mengadakan infiltrasi menjadi lebih
panjang dan sebagian bersatu sehingga membentuk sel tuberkel epiteloid yang
dikelilingi oleh limposit. Reaksi ini butuh waktu 10-20 hari.
Nekrosis
pada bagian sentral menimbulkan gambangan seperti keju yang biasa disebut
nekrosis kaseosa. Daerah yang terjadi nekrosis kaseosa dan jaringan granulasi
disekitarnya yang terdiri dari sel epiteloid dan fibroblast menimbulkan respon
yang berbeda. Jaringan granulasi menjadi lebih fibrosa membentuk jaringan
parut yang akhirnya akan membentuk suatu kapsul yang mengelilingi tuberkel.
Lesi
primer paru dinamakan fokus ghon dan gabungan terserangnya kelenjar getah bening
regional dan lesi primer dinamakan kompleks ghon. Respon lain yang dapat
terjadi didaerah nekrosis adalah pencairan dimana bahan cair lepas kedalam
bronkus dan menimbulkan kavitas. Materi tuberkel yang dilepaskan dari dinding
kavitas akan masuk kedalan percabangan trakeobronkhial. Proses ini dapat
terulang lagi kebagian paru lain atau terbawa kebagian laring (tuberkolosis laring).
Kavitas
yang kecil dapat menutup sekalipun tanpa pengobatan dan meninggalkan jaringan
parut fibrosa. Bila peradangan mereda lumen brokus dapat menyempit dan tertutup
oleh jaringan parut yang terdapat dekat dengan perbatasan bronkus rongga. Bahan perkejuan
dapat mengental sehingga tidak dapat mengalir melalui saluran penghubung
sehingga kavitas penuh dengan bahan perkejuan dan lesi mirip dengan lesi kapsul
yang terlepas. Keadaan ini dapat dengan tanpa gejala dalam waktu lama atau
membentuk lagi hubungan dengan brokus sehingga menjadi peradangan aktif.
Penyakit
dapat menyebar melalui getah bening atau pembuluh darah. Organisme yang lolos
dari kelenjar getah bening akan mencapai aliran darah dalam jumlah kecil,
kadang dapat menimbulkan lesi pada oragn lain. Jenis penyebaran ini disebut limfohematogen yang
biasanya
sembuh sendiri. Penyebaran hematogen biasanya merupakan fenomena akut yang dapat
menyebabkan tuberkulosis miler. Ini
terjadi apabila fokus nekrotik merusak pembuluh darah sehingga banyak organisme
yang masuk kedalam sistem vaskuler dan tersebar keorgan-organ lainnya.
Paru yang
terinfeksi menjadi lebih bengkak, mengakibatkan terjadinya bronko pneumonia
lebih lanjut, pembentukan tuberkel dan selanjutnya. Kecuali proes tersebut
dapat dihentikan, penyebarannya dengan lambat mengarah kebawah kehilum
paru-paru dan kemudian meluas kelobus yang berdekatan. Proses infeksi umumnya
secara laten tidak menunjukkan gejala sepanjang hidup, sekitar 10% individu
yang awalnya terinfeksi mengalami penyakit aktif dan menjadi sakit TB. Dengan
integritas kekebalan yang menurun karena malnutrisi, infeksi HIV, supresi
kekebalan immunoterapi, atau bertambahnya usia.
Terjadinya TB Paru dibedakan
menjadi:
1. Infeksi primer
Terjadi
saat seseorang terpapar pertama kali dengan kuman TB Paru. Droplet yang terhirup ukurannya
sangat kecil, hingga dapat melewati mukosilier bronkus dan terus
berjalan sampai di alveolus dan menetap disana. Infeksi dimulai saat kuman
TB PARU berhasil berkembang biak dengan cara membelah diri di Paru, yang mengakibatkan
peradangan pada Paru, dan ini disebut komplek primer. Waktu antara terjadinya infeksi
sampai pembentukan komplek primer adalah sekitar 4 -6 minggu. Kelanjutan
setelah infeksi primer tergantung dari banyaknya kuman yang masuk dan besarnya respon daya
tahan (imunitas seluler). Pada umumnya reaksi daya tahan tubuh tersebut dapat menghentikan perkembangan
kuman TB PARU. Meskipun demikian, ada beberapa kuman akan menetap sebagai kuman persister
atau dorman (tidur), kadang-kadang daya tahan tubuh tidak mampu menghentikan perkembangan kuman, akibatnya
dalam beberapa bulan yang bersangkutan akan menjadi penderita TB
PARU. Selanjutnya, infeksi primer ini akan mengakibatkan batuk, akibatnya
produksi sputum berlebihan, yang mengakibatkan tidak efektifnya jalan nafas.
Hal ini juga mengakibatkan penderita kurang nafsu makan sehingga nutrisi
tidak seimbang maupun menurun. Masa inkubasi, yaitu waktu yang diperlukan
mulai terinfeksi sampai menjadi sakit, diperkirakan sekitar 6 bulan.
2. Infeksi Pasca Primer/ infeksi sekunder (Post Primary TB PARU)
TB PARU pasca
primer biasanya terjadi setelah beberapa bulan atau tahun sesudah infeksi primer,
sejumlah kecil bakteri TB masih hidup dalam keadaan
dorman di jaringan paru. Reaktivitas penyakit TB terjadi selang beberapa bulan
atau tahun dan diiringi bila didukung dengan keadaan daya tahan tubuh menurun, perokok
aktif, alkoholisme, diabetes mellitus, dan AIDS serta lingkungan yang tidak
sehat. Tuberkolosis kronis yang terjadi selama bertahun-tahun dapat
mengakibatkan Amiloidosis. Pada TB
sekunder kelenjar limfe regional, lesi lebih terbatas dan terlokalisasi. Reaksi
imunologi terjadi dengan adanya pembentukan granuloma, mirip yang terjadi pada
infeksi primer. Tetapi, nekrosis jaringan lebih menyolok dan menghasilkan lesi
kaseosa (perkijuan) yang luas yang disebut tuberkuloma. Protease yang
dikeluarkan oleh mikrofag aktif akan menyebabkan perlunakan bahan kaseosa.
Secara umum, dapat dikatakan bahwa terbentuknya kavitas dan manifestasi lainnya
dari TB sekunder adalah akibat dari reaksi nekrotik yang dikenal sebagai
hipersensitivitas seluler (delayed hipersensivity).
TB paru
pasca primer dapat disebabkan infeksi lanjutan dari sumber eksogen, terutama
pada usia tua dengan riwayat semasa muda pernah terinfeksi TB. Biasanya hal ini
terjadi pada daerah apikal atau segmen posterior lobus superior (focus simon,
10-20 mm dari pleura dan segmen apikal lobus inferior). Hal ini mungkin
disebabkan` karena kadar oksigen yang tinggi di daerah ini sehingga menguntukan
untuk pembentukan TB.
Lesi sekunder
berkaitan dengan kerusakan paru. Kerusakan paru disebabkan karena produksi
sitokin (tumor necroting factor) yang berlebihan. Kavitas yang terjadi diliputi
oleh jaringan fibrotic yang tebal yang berisi pembuluh darah pulmonal. Kavitas
yang kronik diliputi oleh jaringan fibrotic yang tebal (Isa,2001).
Manifestasi
klinis
Gejala umum TB Paru adalah batuk lebih dari 4
minggu dengan atau tanpa Sputum, Malaise, Gejala Flu, Demam ringan, Nyeri Dada
dan Batuk Darah.
Keluhan yang dirasakan penderita tuberculosis dapat
bermacam-macam atau malah tanpa keluhan sama sekali. Keluhan yang paling banyak
terjadi yaitu :
a.
Demam
Serangan
demam pertama dapat sembuh kembali, tapi kadang-kadang panas badan mencapai
40-41o C. Demam biasanya menyerupai demam influenza sehingga
penderita biasanya tidak pernah terbebas dari serangan influenza.
b.
Batuk
Terjadi
karena adanya iritasi pada bronkus. Batuk biasanya di alami 4 minggu dan bahkan
berbulan-bulan. Sifat batuk di mulai dari batuk Non Produktif. Keadaan ini
biasanya akan berlanjut menjadi batuk darah. Kebanyakan darah pada Tubeculosis
terjadi pada Kavitas. Tetapi dapat juga terjadi pada ulkus dinding Bronkus.
c.
Sesak Napas
Pada
penyakit yang ringan belum dirasakan sesak napas. Sesak napas akan ditemukan
pada penyakit yang sudah lanjut dimana infiltrasinya sudah meliputi bagian
paru-paru.
d.
Nyeri Dada
Nyeri
Dada timbul bila Infiltrasi radang sudah sampai ke pleura sehingga menimbulkan
pleuritis.
e.
Malaise
Gejala
Malaise sering ditemukan berupa Anoreksia, tidak ada napsu makan . badan
semakin kurus (turun BB),Sakit kepala, Meriang, Nyeri Otot, dan berkeringat
malam. Gejala Malaise makin lama makin berat dan terjadi hilang timbul secara
tidak teratur.
Komplikasi
Beberapa komplikasi yang sering ditemukan pada pasien
TBC atau TB anatar lain sebagai berikut :
1. TBC Miller 7. Amiloidosis
2. Pneumonia
akut.
3. Efusi
pleura
4. Pleurisis
5. Infeksi
dalam darah
6. Tuberkulosis
pada Laring
Pemeriksaan
Diagnostik
·
Kultur sputum : positif untuk mycobacterium
tuberkolosis pada tahap aktif penyakit.
·
Ziehl- Neelsen (pemakaian asam cepat pada gelas kaca
untuk usapan cairan darah) : positif untuk basil asam cepat.
·
Tes kulit (PPD, mantoux, potongan vollmer) : reaksi
positif (area industry 10 mm atau lebih besar, terjadi 48-72 jam setelah
injeksi intradermal antigen) menunjukan infeksi masa lalu dan adanya antibofdi
tetap tidak secara berarti menunjukan penyakit aktif. Reaksi bermakna pada
pasien yang secara klinik sakit berarti bahwa TB aktif tidak dapat diturunkan
atau infeksi disebabkan oleh mocrobacterium yang berbeda.
·
ELISA/western blot : dapt menyatakan adanya HIV.
·
Foto thoraks : dapat menunjukkan infiltrasi lesi awal
pada area paru atas, simpanan kalsium lesi sembuh primer, atau efusi cairan. Perubahan
menunjukkan lebih luas TB dpat termasuk rongga, area fibrosa.
·
Histology atau kultur jaringan (termasuk pembersihan
gaster, urin dan cairan serebrospinal, biopsikulit) : positf untuk
mycobacterium tuberkolosis.
·
Biopsi jarum pada jaringan paru : positif untuk
granuloma TB, adanya sel raksasa menunjukan nekrosis.
·
Elektrosit : dapat tak normal tergantung pada lokasi
dan beratnya infeksi, contoh hiponatremia disebabkan oleh tak normalnya retensi
air dapat ditemukan pada TB paru kronis luas.
·
GDA : dapat normal tergantung lokasi, berat dan
kerusakan sisa pada paru.
·
Pemeriksaan fungsi paru : penurunan kapasitas vital,
peningkatan ruang mati, peningkatan rasio udara residu dan kapasitas paru
total, dan penurunan saturasi oksigen sekunder terhadap infiltrasi parenkim/fibrosis,
kehilangan jaringan paru, dan penyakit pleural (TB paru kronis luas).
Pemeriksaan
Penunjang
·
Tes Darah
Tes darah
dapat mendeteksi anemia, penurunan natrium, dan peningkatan kalsium.
·
Tes Mantoux
Sangat
positif pada TB Paru pascaprimer (indurasi kulit >5 mm dengan 10 unit
tuberkulin intradermal, dibaca pada hari ketiga). Sering negative pada TB
milier (penurunan respons pejamu) dan HIV (penurunan imunitas selular).
·
Tes Heaf (tes skrining; sekarang jarang digunakan)
Suatu
cincin dengan 6 cocokan peniti yang dibuat melalui larutan tuberculin pada
lengan bawah. Tidak adanya respon pada hari ke- 4 -7 (derajat 0) memperlihatkan
kurangnya imunitas: 4-6 nodul diskret ( derajat 1) atau suatu cincin yang
terbentuk melalui koalisi semua cocokan peniti (derajat 2) menunjukkan
imunitas. Satu nodul yang dibentuk dengan mengisi cincin (derajat 3) menggambarkan
baru saja terjadi kontak atau infeksi tuberculosis dini, dan suatu nodul
>5-7 mm dengan vesikel atau ulserasi permukaan (derajat 4) menunjukkan
infeksi.
·
Mikrobiologi
Basil
tahan asam dapat dideteksi pada sputum atau bilasan paru yang menggunakan
pewarnaan Ziehl-Neelsen. Namun, basil tumbuh lambat dan kultur serta
sensitivitas obat memerlukan waktu 4-6 minggu. Kultur dari sumsum tulang atau
cairan serebrospinal (CSS) dapat mengkonfirmasi diagnosis TB milier.
·
Histopatologi
Aspirasi
pleura dengan biopsi mengkonfirmasi TB pada ~90% pasien dengan efusi pleura.
Biopsi akan menemukan TB milier ~60% kasus.
·
Radiografi Dada
Pembentukan
bayangan di Lobus bawah sangat menunjang. Kavitas di Apeks, efusi pleura, dan
pneumotoraks dapat terjadi. Pada TB milier, nodul kecil yang terbesar luas
(diameter 2-3 mm) secara difus menyebar keseluruh paru (bayangan milier), dan
mudah lupu dari penglihatan.
ASUHAN
KEPERAWATAN
1.
Pengkajian
Identitas
Pasien
Nama : Bpk. RA
Umur : 50 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Status
Perkawinan : Menikah
Agama : Hindu
Pendidikan : S1
Pekerjaan : karyawan swasta
Alamat : jl. Wolter manginsidi no.17
Riwayat
Kesehatan Saat Ini
·
Keluhan Utama :
batuk selama 4 minggu sampai berbulan-bulan, dan
terjadi penurunan berat badan, serta batuk mengeluarkan darah.
·
Sifat keluhan :
berulang
·
Lokasi Keluhan :
paru-paru
·
Faktor :
merokok dan pecandu alcohol.
·
Usaha klien mengatasinya : minum obat dan istirahat yang cukup (tira baring)
·
Riwayat Penyakit terdahulu :
klien pernah dirawat di rumah sakit karena infeksi
saluran pernapasan akut (ISPA).
Riwayat Psikospiritual
1.
Klien sering mengeluh sakit pada tenggorokan karena batuk dan cemas
terhadap penyakitnya.
2.
Klien selalu bertanya keadaannya setiap saat.
3.
Klien stress karena memikirkan anaknya yang masih sekolah.
4.
Hubungan dengan keluarga: baik. Keluarga sering datang untuk
melihat klien di rumah sakit.
5.
Hubungan dengan masyarakat: baik. Klien serimg terlibat dalam
kegiatan sosial bermasyarakat.
6.
Keagamaan: klien sering terlibat dalam kegiatan
keagamaan.
Kebutuhan Dasar
1.
Pola makan
Klien makan
2x sehari, porsi makanan sedikit dan napsu makan
kurang.
2.
Pola Minum
Klien minum
sekitar 3-5gelas perhari.
3.
Pola Eliminasi
a. Eliminasi
Miksi
Klien miksi lancar sekitar 2-3 kali sehari. Tidak
ada gangguan apapun saat klien miksi.
b.Eliminasi
Defekasi
Klien defekasi 1-2 kali sehari. Konsistensi padat. Tidak ada
keluhan saat defekasi. Saat defekasi klien juga merokok.
4.
Pola Tidur
Malam : 23.00 – 03.00 terbangun karena
batuk. Tidur lagi 03.30-06.00
Siang : 13.00-03.00
Pemeriksaan Fisik :
1. Keadaan umum
T : 120/90 mmHg R : 27x/menit
N : 105x/menit Suhu : 400
C
2.
Kulit : Pucat, demam, berkeringat dingin.
3.
Muka : tampak gelisah.
4.
Telinga : bentuk simetris kiri dan kanan, pendengaran tidak terganggu.
5.
Hidung : bentuk
simetris, fungsi penciuman terganggu karena kebersihan jalan napas tdk efektif, polip (-)
tidak ditemukan darah/cairan keluar dari hidung.
6.
Mulut : bibir agak kering, mengeluarkan bercak darah saat batuk.
7.
Leher : tenggorokan terasa sakit saat batuk, dapat digerakkan dengan bebas.
8.
Dada : terasa sesak.
Pemeriksaan Diagnostik
1.
Pemeriksaan roontgen thoraks, adanya
suatu lesi sebelum ditemukan adanya gejala subjek awal dan sebelum pemeriksaan
fisik menemukan kelainan pada paru yaitu kelainan di lokasi lobus bawah dan
biasanya berada di sekitar hilus. Karakteristik kelainan yaitu terlihat sebagai
daerh bergaris-garis opaque yang ukurannya bervariasi dengan batas lesi yang
tidak jelas.
2.
Pemeriksaan CT scan, dilakukan untuk
menemukan adanya kasus TB inaktif/stabil yang ditunjukkan adanya gambaran
gari-garis ireguler, pita paenkimal, klasifikasi nodul dan adenopati, perubahan
kelengkuan berkas bronkhovaskular, bronkiektasis, dan emfisiema
periksikatriksial.
3.
Radiologi TB paru miller, nodul-nodul
dapt trlihat pada rontgen akibat tumpang tindih dengan lesi parenkim sehingga
cukup terlihat sebagai nodul-nodul kecil.
Daftar
Pusataka
-
Doenges E. Merilynn, Moorhouse F. Mary, Geissler C.
Alice. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan, ed. 3, cet. 1. Jakarta:EGC.
-
Irianto Kus.2004.Struktur
dan Fungsi Tubuh Manusia Paramedis. Bandung:CV. YRAMA WIDIYA.
-
Lawer William, Ahmed Ali, Hume William J.1992.Patologi
untuk kedokteran gigi. Jakarta:EGC.
-
Muttaqin Arif.2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan
dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta:Salemba Medika.
-
Mayo clinic & Everyday health. Komplikasi TBC.
Jumat,16/3/2013. Diunduh tgl 2/9/2013. Jam 12:20.
-
Prasetyono Sunar Dwi.2012.Daftar Tanda dan Gejala
Ragam Penyakit, cet. 1. Jogjakarta:Flash book.
-
Price A. Sylvia dan Wilson Lorraine M.2006.
Patofisiologi, ed. 6, cet 1. Jakarta:EGC.
-
Syafuddin H. AMK.2006. Anatomi Fisologi, ed. 3, cet. 1. Jakarta:EGC.
Lampiran
Setiap anggota kelompok 3, turut
mengambil bagian/aktif dalam pembuatan Askep Tubercolosis.
Langganan:
Posting Komentar
(Atom)
0 komentar:
Posting Komentar